Search
Main Menu
Home
News
Blog
Komik Gallery
Kalender Acara
Download
Links
Contact Us
Search
Buku Tamu
Database

Advertisement
KOMIK INDONESIA MASIH EKSIS PDF Print E-mail
User Rating: / 3
PoorBest 
Wednesday, 17 January 2007
oleh Elok Dyah Messwati
Dipublikasikan di harian Kompas, Minggu, 13 Februari 2000


DI tengah serbuan komik-komik asing, seperti komik-komik Jepang, Amerika dan Eropa yang merajai pasar komik, komik Indonesia ternyata masih eksis. Ini terbukti dengan banyaknya jumlah peserta pameran dalam Pekan Komik dan Animasi Nasional (PKAN) yang digelar di Galeri Nasional, Jalan Merdeka Timur, Jakarta, 5-14 Februari 2000. Bermacam-macam acara diselenggarakan untuk menggairahkan perkomikan kita. Menurut Ketua Panitia PKAN, Rahayu Surtiati Hidayat, sesuai dengan tema PKAN II, maka konsep dasar pameran ini adalah mengetengahkan suatu sinergi media komik dan animasi dengan menampilkan dimensi multimedia antara penggunaan gambar dalam komik dan animasi.

Berbeda dari PKAN 1998 yang bertujuan untuk membangkitkan kesadaran masyarakat tentang komik Indonesia yang pernah berjaya, tujuan PKAN 2000 adalah untuk menyadarkan masyarakat bahwa komik dan animasi Indonesia telah tumbuh kembali dan akan menjadi media komunikasi paling penting di masa depan.

Dalam komik maupun animasi, gambar dapat digunakan sebagai media informasi pendidikan, propaganda ekspresi dan hiburan. Komik maupun animasi juga dapat dikembangkan sebagai produk kesenian yang dapat dijual dan diperkenankan kepada masyarakat. Pemanfaatan media gambar seperti itu mendorong muncul dan berkembangnya berbagai jenis komik dan animasi.

Materi pameran kali ini menampilkan keberadaan komik dan animasi Indonesia di sepanjang 1990-an serta pemanfaatan keduanya untuk berbagai keperluan, termasuk menampilkan peran maupun jenis komik dan animasi yang berkembang dan muncul di tahun 1990-an. Selain itu, juga ditampilkan proses pengalihan media dari sebuah bentuk penyampaian cerita secara konvensional menjadi media cetak dalam bentuk komik dan media seni pertunjukan dalam bentuk animasi.

Inti tematik dari pameran ini adalah memperlihatkan potensi kreativitas dan inovasi dari komikus dan animator muda Indonesia. Turut menyemarakkan pameran ini antara lain, para komikus dan animator muda, penerbit independen, rumah produksi dan studio-studio komik. Ada Mizan, SP Komik, Studio Komik Bajing Loncat, Komik Karpet Biru, Kabin, Nirmana, Animik World, MKI/Studio Format, Dark Studio, Deni Animation, AVATAR Index.

Berbagai acara digelar, yakni lomba menggambar komik strip, temu seniman dan remaja, workshop komik, bursa komik dan animasi, festival animasi, bazar dan kuis, seminar animasi bertema "Animasi, Seni dan Teknologi Masa Depan" menampilkan pakar-pakar animasi Indonesia. Pada hari Minggu (13/2) ini, diadakan lomba mewarnai untuk anak-anak SD, pelatihan animasi untuk anak-anak supaya mereka tahu bagaimana caranya membuat film kartun. Sementara pada tanggal 14 Februari besok, PKAN akan ditutup pukul 10.00 WIB.

***

UNTUK menggairahkan dunia perkomikan kita, juga digelar sayembara komik. Persoalannya, mengapa komik-komik Indonesia kini terdesak oleh komik asing, mengapa pula komik asing justru mempengaruhi penggarapan komik-komik kita?

Komikus Dwi Koendoro BR mengatakan bahwa problem komik kita sudah sangat serius. Anak-anak akan lebih tahu siapa Pocahontas dibandingkan siapa itu Pangeran Diponegoro atau Ibu Kartini.

"Komikus kita sebenarnya memiliki kemampuan. Kalau Anda lihat pemenang sayembara komik itu, saya kagum dan terharu, kenapa mereka bisa bikin komik begitu bagus dan tidak kalah dengan komik asing. Cuma mereka belum dilirik oleh para penerbit karena penerbit selalu berhitung dan berupaya mencari untung," kata Dwi Koen.

Mengenai pengaruh Jepang yang mewarnai karya komik komikus Indonesia, menurut Dwi Koen, itu hal yang wajar, karena Amerika pun terpengaruh Jepang. Jadi itu tak perlu dikhawatirkan, tinggal bagaimana mengasah mereka untuk terus berkarya.

Jika menengok kembali sejarah komik Indonesia, komik strip adalah langkah awal komik Indonesia. Komik strip pada masa itu muncul di majalah atau surat kabar dengan tema-tema yang dipilih antara lain, lelucon kehidupan sehari-hari, cerita rakyat-legenda, petualangan dan menjelang kemerdekaan. Banyak tema perjuangan nasionalisme yang muncul. Pada tahun 1931, surat kabar Sin Po memuat cerita seri tokoh Put On karya Kho Wang Gie.

Abdul Salam membuat kisah-kisah perlawanan seperti Kisah Pendudukan Yogya dan Pemberontakan Pangeran Diponegoro di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta. Mingguan Ratoe Timoer menampilkan cerita Mentjari Poetri Hidjaoe karya Nasroen AS sejak 1 Februari 1939.

Masa keemasan komik Indonesia ditandai dengan banyaknya ragam dan judul komik yang diterbitkan pada masa itu. Kecerdikan penerbit, kreativitas komikus dan tanggapan pembaca menciptakan dinamika yang mendukung suburnya dunia komik saat itu. Komik strip asing, seperti Flash Gordon, Rip Kirby, Prince Valiant, Tarzan dan Superman yang masuk ke Indonesia lewat surat kabar, juga menjadi pendorong penciptaan karya-karya komikus Indonesia.

Pada tahun 1954, RA Kosasih menciptakan tokoh Sri Asih untuk penerbit Melodie. Tanggapan dari masyarakat sangat baik sehingga seri berikut dimunculkan. John Lo sebelumnya menciptakan tokoh Kapten Kilat walau tidak sepopuler Sri Asih. Tokoh-tokoh yang diciptakan antara lain, Putri Bintang dan Garuda Putih dari John Lo. Siti Gahara adalah tokoh dengan latarbelakang dunia 1001 malam karya RA Kosasih.

Ketika muncul reaksi negatif dari kalangan pendidik atas mewabahnya komik Indonesia saat itu, penerbit Melodie dan RA Kosasih menciptakan komik dengan tema wayang dengan komikus antara lain S Ardisoma, Aoerip S Ardina, Suherlan, NA Giok Lang, AR Rosadhy, dan lain-lain. Komik wayang ini, selain dibuat oleh penerbit dan komikus Bandung, juga diterbitkan oleh komikus-komikus dari Solo, Semarang, Surabaya dan Medan.

Kota Medan dengan penerbit Harris dan Casso juga melahirkan banyak komikus yang baik. Taguan Hardjo bersama Zam Nuldyn dan Djas adalah tokoh komik Medan yang sangat menonjol. Kelompok komikus Medan rata-rata memiliki kecenderungan untuk menggarap kisah-kisah legenda, cerita rakyat Melayu, roman, detektif dan komik-komik perjuangan. Ragam komik lainnya antara lain, kisah sains fiksi, wayang, adaptasi kisah klasik Barat.

***

SETELAH periode 1950-an, periode 1960-an hingga awal 1980-an bisa dikatakan sebagai kebangkitan yang kedua dari komik Indonesia. Akar dari ragam komik yang tumbuh pada periode ini bisa ditelusuri pada periode sebelumnya. Walaupun begitu, komikus-komikus Indonesia telah berhasil menciptakan trend baru dalam dunia komik Indonesia.

Ragam komik yang disukai pada periode ini, yakni komik roman remaja, komik yang bertemakan kehidupan remaja kota. Beberapa komikus yang dominan adalah Budijanto, Zaldy, Sim dan Jan Mintaraga. Karya Jan Mintaraga yang cukup populer adalah Sebuah Noda Hitam.

Komik silat, komik yang bertemakan petualangan pendekar-pendekar ahli silat. Ganes TH mempelopori popularitas komik jenis ini. Karya-karyanya antara lain, Serial Si Buta dari Gua Hantu, Siluman Srigala Putih, Tuan Tanah Kedawung, Si Djampang. Djair dengan tokoh Jaka Sembung, Hans Jaladara dengan Panji Tengkorak. Beberapa komikus juga menggarap cerita dengan latar belakang sejarah, seperti Ganes TH dan Teguh Santosa.

Sedangkan tokoh-tokoh superhero Amerika masih cukup kuat pengaruhnya pada dunia komik Indonesia. Setelah Sri Asih, ragam komik superhero kembali populer dengan tokoh baru antara lain, Godam karya Wid NS dan Gundala karya Hasmi.

Sementara ragam komik humor atau dagelan telah muncul sejak 1930-an. Put On boleh dikatakan sebagai pelopor komik, khususnya untuk ragam komedi/humor. Tokoh Put On masih muncul di majalah Varia Nada, Aneka/Ria, Film di tahun 1970-1980-an. Kho Wang Gie memakai nama samaran Sopoiku dalam bentuk buku. Ia membuat Nona A Go-Go, Lemot dan Obud, Agen Rahasia 013 (Bolong Djilu). Dagelan juga sering diselipkan lewat tokoh Petruk, Gareng, Semar, Cepot pada komik wayang. Hingga kini tokoh-tokoh ini masih muncul dalam bentuk komik secara independen dengan berbagai komikus. Yang cukup menonjol pada tahun 1970-an adalah Indri Sudono.

Label HC Andersen juga sering dipakai untuk komik-komik yang bertemakan kisah atau dongeng anak-anak dengan latar belakang Kerajaan Eropa. Label ini tetap dipakai sekalipun cerita tersebut bukan karya HC Andersen.

Semakin beragamnya jenis hiburan yang muncul, turut mengurangi kegairahan dunia komik Indonesia. Di samping itu, komik-komik asing banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan menggeser popularitas komik Indonesia. Masalah kualitas, profesionalisme, promosi dan distribusi, seringkali menjadi pokok perdebatan ketika mendiskusikan masalah tersebut. Penciptaan komik-komik Indonesia saat ini seakan-akan didorong dan dipengaruhi oleh hadirnya komik-komik asing. Ragam komik superhero karya komikus muda cukup banyak digali di tahun 1990-an. Dalam upaya meningkatkan profesionalisme, mereka mulai melakukan pembagian kerja atau spesialisasi dalam pengerjaan komik. Karya-karya mereka bisa kita simak dalam pameran kali ini.
Add as favourites (128) | Views: 2771

Be first to comment this article
RSS comments

Write Comment
  • Please keep the topic of messages relevant to the subject of the article.
  • Personal verbal attacks will be deleted.
  • Please don't use comments to plug your web site. Such material will be removed.
  • Just ensure to *Refresh* your browser for a new security code to be displayed prior to clicking on the 'Send' button.
  • Keep in mind that the above process only applies if you simply entered the wrong security code.
Name:
E-mail
Homepage
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Comment:



Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.5

Last Updated ( Wednesday, 17 January 2007 )
 
< Prev   Next >
Informasi OS & IP
OS:  Unbekannt
IE:  Anderer Browser
ISP:  amazonaws.com
IP:  54.161.240.10
      Home arrow News arrow ARTIKEL arrow KOMIK INDONESIA MASIH EKSIS