bersama Akademi Samali, Splash dan KomikIndonesia.com,
serta
InTouch bekerja sama meluncurkan era terbaru dalam sejarah
komik nasional:
M-KOMIK. Kini anda dapat menikmati komik melalui
ponsel kapanpun dan
dimanapun anda berada. Nikmatilah sensasi
terbaru dalam membaca komik,
sesuatu yang tidak anda dapatkan ketika
membaca buku komik.
Penasaran? Saksikanlah peluncuran M-Komik pada
hari
Jum'at, 1Februari 2008 pukul 14.00 WIB-selesai
di MAL TAMAN ANGGREK - JAKARTA BARAT, yang akan dibuka langsung
oleh
Dirut Telkomsel Bpk. Kiskenda. Acara akan dilanjutkan dengan demo
M-Komik,
lomba mewarnai, workshop komik, jumpa fans dengan komikus,
setiap hari hingga Minggu, 3 Februari 2008 pukul 19.00 WIB.
SUMBANGAN DOYOK BAGI JAKARTA: KELIEK SISWOYO (1955-2012)
Monday, 06 August 2012
oleh Seno Gumira Ajidarma, dipublikasikan di harian Kompas, Minggu 5 Agustus 2012
Bagi para pembaca setia koran Pos Kota, kepergian Keliek Siswoyo (56) yang terasa mendadak pada Jumat, 3 Agustus 2012, niscaya meninggalkan perasaan yang kosong. Bagaimana jika tokoh gubahannya, Doyok, yang biasa muncul setiap hari, tidak akan pernah tampak lagi dengan segala komentarnya yang sinis, bahkan sarkastis?
oleh Surjorimba Suroto Dipublikasi di harian Koran Tempo Minggu: Ruang Baca, 28 Januari 2007
“Komik tidaklah efektif memberantas korupsi. Namun komik dapat me-rekonstruksi paradigma pembaca dalam melawan korupsi di lingkungannya.”
Secara garis besar itulah pendapat Radhar Panca Dahana tentang efektivitas komik sebagai media melawan korupsi saat berbicara di forum diskusi Komik-komik Melawan Korupsi (22/12/06) yang diselenggarakan Akademi Samali dan Toko Buku Aksara dibilangan Kemang. Penulis serial komik Mat Jagung berkisah tentang visi, suka duka, dan rencana jangka panjang Mat Jagung, tokoh rekaannya yang senantiasa melawan berbagai bentuk korupsi di masyarakat. Serial ini hadir tiap hari minggu di Koran Tempo sejak 30 April 2006 dengan satu halaman teaser seminggu sebelumnya. “Mohammad Sidup (nama asli Mat Jagung) adalah seorang jaksa penyidik mengikuti semangat ayahnya, seorang jaksa yang mati terbunuh saat menjalankan tugas. Ia berangkat dari idealisme yang ditanamkan orang tuanya, bahwa setiap insan hendaknya senantiasa berjuang untuk kebenaran,” papar Radhar, “Mat Jagung sering melamun dan introspeksi. Menyadari (korupsi) yang dilawannya hanyalah puncak dari sebuah gunung es, kadangkala nurani kemanusiaannya muncul. Akankah kebenaran mampu menang, atau sia-siakah perjuangannya selama ini?”